Selasa, 16 September 2014

Media Pembelajaran Pembuatan Audio Visual

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
            Di zaman yang serba modern ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju dan mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Para guru dituntut agar mampu memahami, menguasai, serta mampu menggunakan alat-alat yang tersedia dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pembelajaran.
            Media yang beraneka ragam dapat digunakan guru agar peserta didik tidak bosan dalam proses pembelajaran, mampu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk lebih giat belajar, serta akan membantu memperjelas materi yang akan disampaikan. Macam-macam media tersebut antara lain Media Visual, Media Audio, Media Audiovisual dan Animasi, serta Media Komputer.
            Para pendidik dan dan orang tua tidak dapat mengingkari betapa kuat pengaruh media komunikasi khususnya media audiovisual dan animasi terhadap anak didik. Daya tarik yang begitu kuat dari media audiovisual dan animasi bagi anak-anak tidak lepas dari karakteristik media ini yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan media cetak maupun media dengar, sehingga anak-anak sangat menyukainya. Saat ini semakin banyak pembuat program yang sadar betul dengan daya pikat media audiovisual dan animasi bagi anak-anak.
            Media  juga salah satu diantaranya yang sangat penting bagi guru, karena guru sebagai pengembang ilmu sangat penting sekali untuk memilih dan melaksanakan pembelajaran yang tepat dan efisien bagi peserta didik. Pembelajaran yang baik dapat ditunjang dari suasana pembelajaran yang kondusif serta terjadinya interaktif antara guru dan siswa dengan baik. Pembelajaran akan lebih bermakna manakala menarik minat siswa dan memberikan kemudahan untuk memahami materi karena penyajiannya dengan dilengkapi berbagai media sebagai sarana penunjang kegiatan pembelajaran. Maka dari itu pada makalah ini, akan membahas atau menguraikan tentang salah satu macam media yaitu media audio-visual dan animasi.



B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya yaitu:
1.      Apakah pengertian media audio-visual itu ?
2.      Apa saja prosedur produksi media audio visual ?
3.      Apa saja fasilitas peralatan produksi media audio-visual ?
4.      Apa saja karakteristik dan jenis-jenis media audio visual ?
5.      Bagaimana cara membuat media audio- visual?

C.  Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah dia atas, maka tujuannya yaitu:
1.               Mengetahui pengertian media audio visual.
2.               Mengetahui prosedur produksi media audio visual.
3.               Mengetahui fasilitas peralatan produksi media audio visual.
4.               Mengetahui karakteristik dan jenis-jenis media audio visual
5.               Mengetahu cara membuat audio- visual.



6.       
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Audio Visual
            Sebelum beranjak ke pengertian media audio visual maka terlebih dahulu kita mengetahui arti kata media itu sendiri. Apabila dilihat dari etimologi “kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar, maksudnya sebagai perantara atau alat menyampaikan sesuatu” (Salahudin,1986: 3)
            Sejalan dengan pendapat di atas, AECT (Association For Education Communication Technology) dalam Arsyad mendefinisikan bahwa “ media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk menyalurkan pesan informasi” (Arsyad,2002:11). Media pembelajaran sangat beraneka ragam. Berdasarkan hasil penelitian para ahli, ternyata media yang beraneka ragam itu hampir semua bermanfaat. Cukup banyak jenis dan bentuk media yang telah dikenal dewasa ini, dari yang sederhana sampai yang berteknologi tinggi, dari yang mudah dan sudah ada secara natural sampai kepada media yang harus dirancang sendiri oleh guru. Dari ketiga jenis media yang ada yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran, bahwasanya media audio-visual adalah media yang mencakup 2 jenis media yaitu audio dan visual.
            Jika dilihat dari perkembangan media pendidikan, pada mulanya media hanya sebagai alat bantu guru. Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual misalnya gambar, model, objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Namun, karena terlalu memusatkan perhatian pada alat bantu visual yang dipakainya orang kurang memperhatikan aspek desain, pengembangan , produksi dan evaluasinya. Dengan masuknya pengaruh teknologi audio pada sekitar pertengahan abad ke-20, alat visual untuk mengkonkretkan ajaran ini dilengkapi dengan audio sehingga kita kenal adanya audio-visual . Konsep pengajaran visual kemudian berkembang menjadi audio-visual pada tahun 1940, istilah ini bermakna sejumlah peralatan yang dipakai oleh para guru dalam menyampaikan konsep gagasan dan pengalaman yang ditangkap oleh indera pandang dan pendengaran.
            Sebagai media pembelajaran dalam pendidikan dan pengajaran, media audio- visual mempunyai sifat sebagai berikut:
• Kemampuan untuk meningkatkan persepsi
• Kemampuan untuk meningkatkan pengertian
• Kemampuan untuk meningkatkan transfer (pengalihan) belajar.
• Kemampuan untuk memberikan penguatan (reinforcement) atau pengetahuan hasil yang dicapai
• Kemampuan untuk meningkatkan retensi (ingatan).
                                                                                                                                   
            Media audio-visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media auditif (mendengar) dan visual (melihat).[1]  Media Audiovisual merupakan sebuah alat bantu audiovisual yang berarti bahan atau alat yang dipergunakan dalam situasi belajar untuk membantu tulisan dan kata yang diucapkan dalam menularkan pengetahuan, sikap, dan ide.
Pengertian lain media audio-visual adalah seperangkat alat yang dapat memproyeksikan gambar bergerak dan bersuara. Paduan anatara gambar dan suara membentuk karakter sama dengan obyek aslinya. Alat-alat yang termasuk dalam kategori media audio-visual adalah: televise, video-VCD,sound dan film.[2]

B.  Prosedur Produksi Media Audio Visual
Pembuatan media audio visual TV/Video pembelajaran memerlukan beberapa tahapan kegiatan antara lain:
1. Tahap Pra Produksi
                  Pada tahapan ini terdapat hal-hal yang diperlukan untuk sebuah proses pembuatan film pendek antara lain:
a) Ide cerita
             Ide cerita adalah gagasan utama yang nantinya akan dijadikan sebuah scenario. Sebelum membuat cerita film, kita harus menentukan tujuan pembuatan film. Hanya sebagai hiburan, mengangkat fenomena, pembelajaran/pendidikan, dokumenter, ataukah menyampaikan pesan moral tertentu. Hal ini sangat perlu agar pembuatan film lebih terfokus, terarah dan sesuai. Jika tujuan telah ditentukan maka semua detail cerita dan pembuatan film akan terlihat dan lebih mudah. Jika perlu diadakan observasi dan pengumpulan data dan faktanya. Bisa dengan membaca buku, artikel atau bertanya langsung kepada sumbernya. Ide film dapat diperoleh dari berbagai macam sumber antara lain: Pengalaman pribadi penulis yang menghebohkan, percakapan atau aktifitas sehari-hari yang menarik untuk difilmkan, cerita rakyat atau dongeng, biografi seorang terkenal atau berjasa. Adaptasi dari cerita di komik, cerpen, atau novel, dari kajian musik, dll.
b) Skenario
           Adalah sebuah naskah yang nantinya akan di pentaskan ataupun di gambarkan pemain pada sebuah pertunjukan. Ada dua tugas utama penulis skenario yaitu menentukan plot yang menarik dan menciptakan karakter yang unik. Jika penulis naskah sulit mengarang suatu cerita, maka dapat mengambil cerita dari cerpen, novel ataupun film yang sudah ada dengan diberi adaptasi yang lain.
c) Breakdown Skenario
           Setelah naskah disusun maka perlu diadakan Breakdown naskah yang memuat seluruh informasi detail yang dibutuhkan tiap scene harus ada. Breakdown naskah dilakukan untuk mempelajari rincian cerita yang akan dibuat film.
d) Rencana Biaya
           Biaya adalah hal yang sangat vital untuk kelangsungan proses produksi sebuah pembuatan film pendek ini.
e) Mencari Tim Produksi
            Secara garis besar beberapa posisi yang dibutuhkan adalah Produser (promotor yang pertama kali), penulis skenario, sutradara, cameramen, pemain, tim property dan editor.
f) Jadwal Produksi
            Jadwal produksi dibuat setelah ada breakdown skenario, jadwal yang tersusun baik akan memperlancar dan menghemat seluruh tenaga serta biaya produksi. Jadwal atau working schedule disusun secara rinci dan detail, kapan, siapa saja , biaya dan peralatan apa saja yang diperlukan, dimana serta batas waktunya. Termasuk jadwal pengambilan gambar juga, scene dan shot keberapa yang harus diambil kapan dan dimana serta artisnya siapa. Lokasi sangat menentukan jadwal pengambilan gambar. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat menyusun alokasi biaya: Penggandaan naskah skenario film untuk kru dan pemain, penyediaan kaset video, penyediaan CD blank sejumlah yang diinginkan, penyediaan property, kostum, make-up, honor untuk pemain, konsumsi, akomodasi dan transportasi, menyewa alat jika tidak tersedia.
g) Hunting Lokasi
            Memilih dan mencari lokasi atau setting pengambilan gambar sesuai naskah. Untuk pengambilan gambar di tempat umum, biasanya memerlukan surat ijin. Akan sangat menggangggu jalannya shooting, jika dalam pertengahan shooting tiba-tiba diusir karena tidak ijin terlebih dahulu. Dalam hunting lokasi perlu diperhatikan berbagai resiko, seperti akomodasi, transportasi, keamanan saat shooting, tersedianya sumber  listik,dll. Setting yang telah ditentukan skenario harus betul-betl layak dan tidak menyulitkan pda saat produksi. Jika biaya produksi kecil, maka tidak perlu tempat yang jauh.
h) Menyiapkan Kostum dan Property
           Memilih dan mencari pakaian yang akan dikenakan tokoh cerita beserta propertinya. Kostum dapat diperoleh dengan mendatangkan desainer khusus ataupun cukup membeli atau menyewa namun disesuaikan dengan cerita skenario. Kelengkapan produksi menjadi tanggung jawab tim property dan artistik.
i) Menyiapkan Peralatan
          Untuk mendapatkan hasil film/video yang baik maka diperlukan peralatan yang lengkap dan berkualitas. Peralatan yang diperlukan (dalam film minimalis) :
• Clipboard.
• Proyektor.
• Lampu.
• Kabel Roll.
• TV Monitor.
• Kamera video S-VHS atau Handycam.
• Pita/Tape.
• Mikrophone clip-on wireless.
• Tripod Kamera.
• Tripod Lampu.

j) Casting Pemain
            Memilih dan mencari pemain yang memerankan tokoh dalam cerita film. Dapat dipilih langsung ataupun dicasting terlebih dahulu. Casting dapat diumumkan secara luas atau cukup diberitahu lewat rekan-rekan saja. Pemilihan pemain selain diperhatikan dari segi kemampuannya juga dari segi budget/pembiayaan yang dimiliki.


2. Tahap Produksi
a) Tata Setting
           Set construction atau tata setting merupakan bagunan latar belakang untuk keperluan pengambilan gambar. Setting tidak selalu berbentuk bangunan dekorasi tetapi lebih menekankan bagaimana membuat suasana ruang mendukung dan mempertegas latar peristiwa sehingga mengantarkan alur cerita secara menarik.
b) Tata Suara
           Untuk menghasilkan suara yang baik maka diperlukan jenis mikrofon yang tepat dan berkualitas. Jenis mirofon yang digunakan adalah yang mudah dibawa, peka terhadap sumber suara, dan mampu meredam noise (gangguan suara) di dalam dan di luar ruangan.
c) Tata Cahaya
            Penataan cahaya dalam produksi film sangat menentukan bagus tidaknya kualitas teknik film tersebut. Seperti fotografi, film juga dapat diibaratkan melukis dengan menggunakan cahaya. Jika tidak ada cahaya sedikitpun maka kamera tidak akan dapat merekam objek. Penataan cahaya dengan menggunakan kamera video cukup memperhatikan perbandingan Hi light (bagian ruang yang paling terang) dan shade (bagian yang tergelap) agar tidak terlalu tinggi atau biasa disebut hight contrast. Sebagai contoh jika pengambilan gambar dengan latar belakang lebih terang dibandingkan dengan artist yang sedang melakukan acting, kita dapat gunakan reflektor untuk menambah cahaya.
Reflektor dapat dibuat sendiri dengan menggunakan styrofoam atau aluminium foil yang ditempelkan di karton tebal atau triplek, dan ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Perlu diperhatikan karakteristik tata cahaya dalam kaitannya dengan kamera yang digunakan. Lebih baik sesuai ketentuan buku petunjuk kamera minimal lighting yang disarankan. Jika melebihi batasan atau dipaksakan maka gambar akan terihat seperti pecah dan tampak titik-titik yang menandakan cahaya under.
           Perlu diperhatikan juga tentang standart warna pencahayaan film yang dibuat yang disebut white balance. Disebut white balance karena memang untuk mencari standar warna putih di dalam atau di luar ruangan, karena warna putih mengandung semua unsur warna cahaya.
d) Tata Kostum
            Pakaian yang dikenakan pemain disesuaikan dengan isi cerita. Pengambilan gambar dapat dilakukan tidak sesuai nomor urut adegan, dapat meloncat dari scene satu ke yang lain. Hal ini dilakukan agar lebih mudah, yaitu dengan mengambil seluruh shot yang terjadi pada lokasi yang sama. Oleh karenanya sangat erlu mengidentifikasi kostum pemain. Jangan sampai adegan yang terjadi berurutan mengalami pergantian kostum. Untuk mengantisipasinya maka sebelum pengambilan gambar dimulai para pemain difoto dengan kamera digital terlebih dahulu atau dicatat kostum apa yang dipakai. Tatanan rambut, riasan, kostum dan asesoris yang dikenakan dapat dilihat pada hasil foto dan berguna untuk shot selanjutnya.
e) Tata Rias
          Tata rias pada produksi film berpatokan pada skenario. Tidak hanya pada wajah tetapi juga pada seluruh anggota badan. Tidak membuat untuk lebih cantik atau tampan tetapi lebih ditekankan pada karakter tokoh. Jadi unsur manipulasi sangat berperan pada teknik tata rias, disesuaikan pula bagaimana efeknya pada saat pengambilan gambar dengan kamera. Membuat tampak tua, tampak sakit, tampak jahat/baik, dll.

3. Tahap Pasca Produksi
a) Proses Editing
           Secara sederhana, proses editing merupakan usaha merapikan dan membuat sebuah tayangan film menjadi lebih berguna dan enak ditonton. Dalam kegiatan ini seorang editor akan merekonstruksi potongan-potongan gambar yang diambil oleh juru kamera.
Tugas editor antara lain sebagai berikut:
• Menganalisis skenario bersama sutradara dan juru kamera mengenai kontruksi dramatinya.
• Melakukan pemilihan shot yang terpakai (OK) dan yang tidak (NG) sesuai shooting report.
• Menyiapkan bahan gambar dan menyusun daftar gambar yang memerlukan efek suara.
•Berkonsultasi dengan sutradara atas hasil editingnya.
• Bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan semua materi gambar dan suara yang diserahkan kepadanya untuk keperluan editing.
b) Review Hasil Editing
            Setelah film selesai diproduksi maka kegiatan selanjutnya adalah pemutaran film tersebut secara intern. Alat untuk pemutaran film dapat bermacam-macam, dapat menggunakan VCD/DVD player dengan monitor TV, ataupun dengan PC (CD-ROM) yang diproyeksikan dengan menggunakan LCD (Light Computer Display). Pemutaran intern ini berguna untuk review hasil editing. Jika ternyata terdapat kekurangan atau penyimpangan dari skenario maka dapat segera diperbaiki. Bagaimanapun juga editor juga manusia biasa yang pasti tidak luput dari kelalaian. Maka kegiatan review ini sangat membantu tercapainya kesempurnaan hasil akhir suatu film.
c. Presentasi dan Evaluasi
           Setelah pemutaran film secara intern dan hasilnya dirasa telah menarik dan sesuai dengan gambaran skenario, maka film dievaluasi bersama-sama dengan kalangan yang lebih luas. Kegiatan evaluasi ini dapat melibatkan :
• Ahli Sinematografi.
• Untuk mengupas film dari segi atau unsur dramatikalnya.
• Ahli Produksi Film.
• Untuk mengupas film dari segi teknik, baik pengambilan gambar, angle, teknik lighting,  dll.
• Ahli Editing Film (Editor).
• Untuk mengupas dari segi teknik editingnya.
• Penonton/penikmat film.
• Penonton biasanya dapat lebih kritis dari para ahli atau pekerja film. Hal ini dikarenakan mereka mengupas dari sudut pandang seorang penikmat film yang mungkin masih awam dalam pembuatan film.
                                             
C.  Fasilitas Peralatan Produksi Media Audio

no
Nama alat
Gambar
1
Clipboard
2
Proyektor
3
Lampu
4
Kabel roll
5
Kamera video S-VHS atau
       Handycam
6
Pita/Tape
7
Mikrophone clip-on wireless.
8
Tripod Kamera
9
Tripod Lampu
10
Video Sender to VHF channel
11
Mini Portable Video Sender
12
Video Sender Point to Point (Super High-Power)
13
Video Sender Point to Point (High Power)

D.  Karakteristik dan Jenis-jenis Media Audio visual
Karakteristik media audio-visual adalah memiliki unsur suara dan unsur gambar. Alat-alat audio visual merupakan alat-alat “audible” artinya dapat didengar dan alat-alat yang “visible” artinya dapat dilihat .[4] Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi dua jenis media yaitu media audio dan visual.
Dilihat dari segi keadaannya, media audio-visual dibagi menjadi dua yaitu audio-visual murni dan audio-visual tidak murni. Adapun perinciannya adalah sebagai berikut:

1. Audio-Visual Murni
Audio-visual murni atau sering disebut dengan audio-visual gerak yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak, unsur suara maupun unsur gambar tersebut berasal dari suatu sumber.
a. Film Bersuara
Film bersuara ada berbagai macam jenis, ada yang digunakan untuk hiburan seperti film komersial yang diputar di bioskop-bioskop. Akan tetapi, film bersuara yang dimaksud dalam pembahasan ini ialah film sebagai alat pembelajaran. Film merupakan media yang amat besar kemampuannya dalam membantu proses belajar mengajar. Film yang baik adalah film yang dapat memenuhi kebutuhan siswa sehubungan dengan apa yang dipelajari. Oemar Hamalik mengemukakan prinsip pokok yang berpegang kepada 4-R yaitu : “ The right film in the right place at the right time used in the right way”[5] .
Secara singkat apa yang telah dilihat pada sebuah film, vidio, ataupun televisi hendaknya dapat memberikan hasil yang nyata kepada siswa. Film yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a) Sesuai dengan tema pembelajaran
b) Dapat menarik minat siswa
c) Benar dan autentik
d) Up to date dalam setting, pakaian dan lingkungan
e) Sesuai dengan tigkat kematangan siswa
f) Perbendaharaan bahasa yang benar .[6]
b. Video
Video sebagai media audio-visual yang menampilkan gerak, semakin lama semakin populer dalam masyarakat kita. Pesan yang disajikan bisa bersifat fakta maupun fiktif, bisa bersifat informative, edukatif maupun instruksional. Sebagian besar tugas film dapat digantikan oleh video. Tapi tidak berarti bahwa video akan menggantikan kedudukan film. Media video merupakan salah satu jenis media audio visual, selain film yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran.
c. Televisi
Selain film dan video, televisi adalah media yang menyampaikan pesan-pesan pembelajaran secara audio-visual dengan disertai unsur gerak. Televisi dalam pengertiannya berasal dari dua kata, yaitu tele (bahasa Yunani), yang berarti jauh,  dan  visi  (bahasa Latin), berarti penglihatan.
Television (bahasa Inggris) bermakna melihat jauh. Kata melihat jauh mengandung makna bahwa gambar yang diproduksi pada satu tempat (stasiun televisi) yang dapat dilihat di tempat lain melalui sebuah perangkat penerima yang disebut televisi minitor atau televisi set.
Televisi merupakan suatu perlengkapan elektronik yang pada dasarnya sama dengan gambar hidup yang terdiri dari gambar dan suara. Dengan demikian peranan TV baik sebagai gambar hidup atau radio yang dapat menampilkan gambar yang dapat dilihat dan menghasilkan suara yang dapat didengar pada waktu yang sama.
Televisi sebagai lembaga penyiaran, telah banyak dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran. Banyak siaran televisi yang khusus menginformasikan atau menyiarkan pesan-pesan materi pendidikan dan pengajaran, yang disebut televisi pendidikan (educational television).
Menurut Darwanto (via Sukiman, 2011: 195), acara siaran pendidikan yang disiarkan melalui televisi, ada dua klasifikasi, yaitu:

a.    Siaran pendidikan sekolah (school broadcasting)
Yang menjadi sasaran acara ini adalah para murid sekolah, dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan para mahasiswa di perguruan tinggi. Siaran langsung dikirim ke sekolah-sekolah yang bersangkutan. Dengan demikian, acara siaran pendidikan jenis ini erat sekali hubungannya dengan kurikulum sekolah yang berlaku pada tahun ajaran itu. Ini berarti bahwa stasiun penyiaran yang bersangkutan melakukan kerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional. Hal yang diharapkan dari siaran pendidikan untuk sekolah ini tentu saja disesuaikan dengan landasan dan tujuan pendidikan dari negara yang bersangkutan. Karena acara siaran pendidikan untuk sekolah mengacu kepada kurikulum, tentu akan memberikan pengaruh secara langsung kepada anak-anak tentang:
a)    Menimbulkan keinginan kepada anak-anak untuk mencoba menggali pengetahuan sesuai dengan pola pikir mereka.
b)    Membantu anak-anak atas sesuatu pengertian yang sebelumnya belum pernah dialami.
c)    Merangsang untuk menumbuhkan hasrat dan menggali hubungan antara kegiatan belajar dengan keadaan sekitarnya.
d)    Merangsang anak-anak untuk berkeinginan menjadi seorang cendekiawan.
Dengan adanya tujuan yang ingin dicapai seperti tersebut di atas, acara pendidikan untuk sekolah merupakan inti dari siaran pendidikan pada umumnya. Karena itu, setiap usaha harus diarahkan untuk mempersiapkan bahan-bahan pendidikan, agar acara itu dapat disajikan dengan baik dan sejalan dengan landasan dan tujuan pendidikan nasional, dengan prioritas utama menyajikan bahan-bahan yang mampu mendorong kegiatan belajar dengan baik.

b.    Siaran pendidikan sepanjang masa (life long education)
Berbeda dengan siaran pendidikan yang berlandaskan kurikulum sekolah, acara pendidikan yang termasuk dalam klasifikasi ini dilandasi oleh nilai-nilai pendidikan yang menjadi sasaran khalayak umum. Hanya saja khalayak umum dibagi menurut tingkatan tertentu, misalnya: usia, jenis kelamin, agama, pendidikan, dan sebagainya. Televisi sebagai media pendidikan dan pengajaran tentu tidak terlepas dari kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan dan kekurangan media televisi menurut Sanaky (2010:107) adalah sebagai berikut:

1)   Kelebihan media televisi sebagai berikut:
a)    Memiliki daya jangkauan yang lebih luas.
b)   Memiliki daya tarik yang besar, karena memiliki sifat audio visual.
c)    Dapat mengatasi batas ruang dan waktu.
d)   Dapat menginformasikan pesan-pesan yang aktual.
e)    Dapat menampilkan obyek belajar seperti benda atau kejadian aslinya.
f)    Membantu pengajar memperluas referensi dan pengalaman.
g)   Sebutan televisi sebagai jendela dunia, membawa khalayak untuk dapat melihat secara langsung peristiwa, suasana, dan situasi tempat, kota, daerah-daerah di belahan dunia.

2.    Audio-Visual tidak murni
Audio Visual tidak murni yaitu media yang unsur suara dan gambarnya berasal dari sumber yang berbeda . Audio-visual tidak murni ini sering disebut juga dengan audio-visual diam plus suara yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti:
1) Sound slide (Film bingkai suara)
Slide atau filmstrip yang ditambah dengan suara bukan alat audio-visual yang lengkap, karena suara dan rupa berada terpisah, oleh sebab itu slide atau filmstrip termasuk media audio-visual saja atau media visual diam plus suara. Gabungan slide (film bingkai) dengan tape audio adalah jenis system multimedia yang paling mudah diproduksi .
Media pembelajaran gabungan slide dan tape dapat digunakan pada berbagai lokasi dan untuk berbagai tujuan pembelajaran yang melibatkan gambar-gambar guna menginformasikan atau mendorong lahirnya respon emosional. Slide bersuara merupakan suatu inovasi dalam pembelajaran yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran dan efektif membantu siswa dalam memahami konsep yang abstrak menjadi lebih konkrit. Dengan menggunakan slide bersuara sebagai media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat menyebabkan semakin banyak indera siswa yang terlibat ( visual dan audio). Dengan semakin banyaknya indera yang terlibat maka siswa lebih mudah memahami suatu konsep. Slide bersuara dapat dibuat dengan menggunakan gabungan dari berbagai aplikasi komputer seperti: power point, camtasia, dan windows movie maker.
Description: D:\Mikuli Uyah\Semester 6\Media Pembelajaran BA\bahan audio visual\pengembangan-media-audio-visual-aid-ava_files\tabel1.JPG      
E.  Membuat Media Audio Sederhana
Suyanto (1999:7) menggolongkan media atau alat bantu pembelajaran bahasa arab menurut dominasi indra yaitu pendengaran, penglihatan, dan alat-alat bicara. Karenanya, media pembelajran yang digunakan sebagai alat bantu pembelajaran dapat dikelempokkan menjadi tiga kategori besar: alat bantu dengar (audio aids), alat bantu pandang (visual aids), dan alat bantu pandang dengar (audio-visual aids)[7]
            Adapun soepormo (1987) megkalisifikasikan media pembelajaran sebagaimana yang terlihat dalam bagan berikut ini :

BAB III





















Seperti yang kita ketahui bersama media pembelajaran berbasih audi-visual adalah media yang menitik beratkan pada kegiatan indra pendengaran dan penglihatan peserta didik. Dan kita kietahui bersama media pembelajaran audio-visual ini pertama kali digunakan melalui televisi. Dari televisi banyak bermunculan media audio visual yang menunjang proses pembelajaran. Zaman sekarang siapa yang tidak kenal computer, video, film, dan banyak hal. Namun tidak jarang media audio visual ini digunakan hanya sebataas media hiburan semata.. Oleh karena itu seorang guru harus mengawasi penggunaan media audia visual ini. Karena sejatinya media pembelajaran audio visual ini hanya sebagai alat yang memaksimalkan proses belajar-mengajar. Oleh karena peran seorang guru sangatlah penting[8]
            Membuat Media Pembelajaran audio-Visual sederhana. Secara garis besar, Banyak peralatan yang mampu digunakan untuk membuat media pembelajaran berbasis audio visual.  Antara lain handycam, rool video, dan lain sebagainya. Tapi mengingat zaman sekarang zaman teknologi, zamannya internet. Apa seorang guru mau untuk membuat media pembelajaran audio visual?
            Kembali lagi kepada definisi media audio visual, media yang memaksimalkan indra pendengaran serta penglihatan. Kita dapat jumpai dalam beberapa video mp4, video clip, film, dan lain-lain. Pertanyaannya adalah apakah guru mau untuk membuat semua itu ? Mungkin ada beberapa guru yang mau serta mampu untuk membuat semua itu, tapi semua itu bisa kita pergunakan baik video, film, dan sebagainya. Apalagi sekarang semua informasi kita bisa temukan dan kita akses lewat internet. Ada beberapa hal yang guru bisa lakukan :
1.       

Guru bisa mencari video atau film di internet, atau masuk ke situs youtube.com. Disana ada video pengajaran bahasa arab yang berbasisaudio visual. Sebagaimana contoh :








Dari situs you tubu guru bisa mengambil video yang cocok dan sesuai dengan materi yang telah ada

2.       

Seorang guru juga bisa munggunakan situs BBC ARABIC,com. Yang mana disana berisi tentang keadaan kabar dunia Arab. Namun hal ini hanya bisa digunakan untuk siswa tingkat atas. Sebagaimana contoh :







3.       Guru bisa menampilkannya dalam 1 layanan, yang mana bisa memunculkan video, audio, film, gambar dan lain-lain dalam Microsoft power point. Dengan menggunakan vasilitas yang ada d power point, menmungkinkan guru dapat menampilkan media audio visual yang berbeda-berbeda, sehingga tidak membuat siswa merasa bosan.
Hal-hal yang harus diperhatikan
1. Guru harus pandai memilah dan memilih, video mana yang akan dimunculkan atau ditampilkan untuk proses belajar mengajar. Agar pembelajaran menjadi maksimal.
2. Guru harus mengetahui tingkat kesulitan dari sebuah video yang akan di tampilkan, agar video tepat sasaran.
3.Garu harus bisa menggabungkan antara education serta entertainment dalam sebuah video. Karena bisa jadi sisi educationnya kalah oleh entertainment.






















BAB III
PENUTUPAN

A.  Kesimpulan
1.      Media audio-visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media auditif (mendengar) dan visual (melihat).
2.      Prosedur Produksi Media Audio
a.       Pra-Produksi
Telaah kurikulum, Penulisan naskah
b.      Produksi
Team produksi, Rembuk naskah, Pemilihan pemain, Latihan kering, Rekaman
c.       Pasca produksi
Editing dan mixing, Preview, Pembuatan master audio pembelajaran
3.      Peralatan Produksi Media Audio
Mikrofon, Perekam (recorder), Alat pemutar hasil rekaman (player), Alat penyampur (mixer), Fasilitas perekam lainnya
4.      Hal-hal yang harus diperhatikan
1. Guru harus pandai memilah dan memilih, video mana yang akan dimunculkan atau ditampilkan untuk proses belajar mengajar. Agar pembelajaran menjadi maksimal.
2. Guru harus mengetahui tingkat kesulitan dari sebuah video yang akan di tampilkan, agar video tepat sasaran.
3.Garu harus bisa menggabungkan antara education serta entertainment dalam sebuah video. Karena bisa jadi sisi educationnya kalah oleh entertainment.

B.  Saran
Bagi Guru : dengan adanya makalah ini diharapkan bagi tenaga pendidik untuk memanfaatkan media audiovisual sebagai bahan ajar untuk meningkatkan pemebelajaran yang efektif dalam kelas .
Bagi Pembaca: setelah membaca makalah ini semoga pengetahuan tentang media audio visual lebih jelas dan bermanfaat bagi dunia pendidikan.






[1] Syaiful Bahri Djaramah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT.Rineka Cipta 2010), hlm.124
[2] Sanaky Hujair, Media Pembelajaran, (Yogyakarta: Safiria Insania Press),hlm.102
[4] Amir Hamzah Suleiman, Media Audio-Visual untuk Pengajaran, penerangan, dan penyuluhan (Jakarta: PT Gramedia, 1985), hal,11
[5] M. Basyirudin Usman dan Asnawir, Media pembelajaran (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal,96
[6] Ibid, hal 98
[7] Ricard E. mayer. Multimedia learning. Pustaka pelajar : yogja karta H. 87
[8] Ibid H. 87

1 komentar:

  1. Assalamualaikum maaf sebelumnya pak, saya seorang mahasiswa yg sedang meneliti dan mengemas produk mennggunakan media audio visual, dan saya ingin mengambil kutipan dari blog ini tentang "prosedur produksi media audio visual" dan itu menggunakan buku yg mana yaa pak? Dan teori dari siapa pak? Karena di buku djamarah itu tidak ada, mohon bantuan nya yaa pak bantuan bapak pasti sangat membantu saya

    BalasHapus